morning5

KASIH PERSAUDARAAN BAGI HIDUP GEREJA

Pembacaan Alkitab: 1 Yoh. 2:3-11

Dalam berita-berita tentang syarat-syarat persekutuan ilahi ini, kita telah melihat ada dua syarat atau tuntutan untuk memelihara persekutuan ini. Syarat pertama, diuraikan dalam 1 Yohanes 1:5-2:2, adalah pengakuan dosa. Syarat kedua, diuraikan dalam 1 Yohanes 2:3-11, adalah mengasihi Allah dan mengasihi saudara-saudara. Karena itu, jika kita ingin memelihara persekutuan kita dengan Allah, kita perlu menanggulangi dosa, dan kita perlu mengasihi Allah dan mengasihi saudara.

Dalam 1 Yohanes 2:9-11, Yohanes mengatakan bahwa seseorang yang membenci saudaranya berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Dalam ayat 10 dia mengatakan, “Siapa yang mengasihi saudara seimannya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.” Dalam ayat-ayat ini Yohanes menekankan mengasihi saudara. Kita perlu melihat mengapa Yohanes menyatakan bahwa syarat terakhir untuk memelihara persekutuan ilahi adalah mengasihi saudara.

Untuk memahami mengapa mengasihi saudara adalah syarat atau tuntutan terakhir dari persekutuan ilahi, kita perlu mengerti apakah sasaran persekutuan ilahi. Di dalam persekutuan ini kita menikmati kekayaan hayat ilahi, tetapi untuk apakah kita menikmati kekayaan di dalam persekutuan ini? Kenikmatan atas kekayaan hayat ilahi di dalam persekutuan ilahi adalah untuk hidup gereja. Kita sangat perlu melihat bahwa sasaran persekutuan ilahi adalah hidup gereja.

Dalam 1:3 Yohanes mengatakan, “Apa yang telah kami lihat dan telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.” Dalam ayat ini kata ganti “kami” mengacu kepada rasul-rasul. Rasul-rasul adalah wakil gereja. Sebab itu, setiap kali Perjanjian Baru membicarakan rasul-rasul, gereja tersirat didalamnya. Rasul-rasul mewakili semua orang beriman di dalam gereja. Karena rasul-rasul mewakili gereja dan karena persekutuan hayat ilahi disebut persekutuan rasul-rasul, kita boleh mengatakan bahwa persekutuan ini adalah untuk hidup gereja.

Kita semua perlu menyadari bahwa persekutuan ilahi sepenuhnya bagi hidup gereja. Persekutuan ini bukan hanya untuk kenikmatan, pengalaman, suplai, makanan, dan pembinaan rohani kita semata. Pada akhirnya, persekutuan ini adalah untuk hidup gereja.

Karena persekutuan ilahi adalah bagi hidup gereja, kita tidak hanya perlu mengakui dosa-dosa kita, tetapi juga perlu mengasihi saudara-saudara. Untuk memelihara persekutuan, hanya mengakui dosa-dosa kita tidaklah cukup. Untuk memelihara persekutuan ilahi, kita perlu mengasihi saudara­saudara. Alasannya adalah hidup gereja adalah satu kehidupan yang korporat, satu kehidupan yang meliputi saudara­saudara. Jika kita kehilangan kasih persaudaraan dan jika kita tidak lagi saling mengasihi, apakah jadinya dengan hidup gereja? Jawabannya adalah hidup gereja akan lenyap. Di mana tidak ada kasih persaudaraan, hidup gereja akan berakhir.

Karena itu marilah kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh setiap perkataan dari Yohanes, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan perintah untuk mengasihi. Dalam ayat 7 Yohanes berkata, “Saudara-saudara yang terkasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu sejak semula. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar.” “Perintah lama” di sini mengacu kepada perintah­perintah yang diberikan oleh Tuhan dalam Yohanes 13:34, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Perintah ini adalah firman yang telah didengar dan dimiliki oleh kaum beriman sejak semula.

Perintah mengenai kasih persaudaraan bersifat lama, juga baru; lama, karena kaum beriman sudah memilikinya sejak permulaan kehidupan kristiani mereka; baru, karena dalam kehidupan kristiani mereka perintah ini berulang-ulang bersinar dengan terang yang baru dan memancar dengan penerangan baru dan kuasa yang segar.

Dalam ayat 8 Yohanes mengatakan kepada kita bahwa kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Lenyapnya kegelapan adalah karena bersinarnya terang yang benar. Terang yang benar adalah terang perintah Tuhan. Karena sorotan terang ini, perintah mengenai kasih persaudaraan memancar dalam kegelapan, membuat perintah yang lama ini menjadi selalu baru dan segar dalam seluruh kehidupan kristiani.

Ketika suatu perintah dari manusia diberikan, ia berangsur­-angsur menjadi tua. Perintah-perintah manusia tidak hidup. Karena itu perintah ini tidak pernah menyingsing dan tidak pernah bersinar. Tetapi perintah yang diberikan oleh Tuhan adalah firman hidup-Nya. Firman ini bersinar. Bila firman hidup ini menyingsing di dalam kegelapan, ia menyingsing dengan terang surgawi. Penyinaran dari terang surgawi membuat hal-hal yang lama menjadi baru. Khususnya, ia membuat perintah lama menjadi baru, segar, dan penuh terang.

Dalam ayat 9 Yohanes melanjutkan, “Siapa yang berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” Terang adalah ekspresi esens Allah dan sumber kebenaran. Kasih ilahi berhubungan dengan terang ilahi dan berlawanan dengan kebencian setani, yang berhubungan dengan kegelapan setani. Membenci saudara dalam Tuhan adalah tanda dari berada dalam kegelapan (ayat 11). Demikian pula, mengasihi saudara adalah tanda dari tinggal di dalam terang (ayat 10).

Kedua syarat persekutuan ilahi itu tergantung pada terang ilahi. Jika kita tidak di dalam terang ilahi, kita secara otomatis berada di luar persekutuan hayat ilahi. Kapan saja kita tanpa terang, secara otomatis kita berada di dalam kegelapan. Ketiadaan terang ilahi adalah satu tanda yang kuat bahwa kita tidak di dalam persekutuan ilahi. Dalam pasal 1, mengenai syarat pertama dari persekutuan ilahi, entah kita di dalam terang atau di dalam kegelapan ditentukan oleh penanggulangan kita atas dosa. Jika kita berdosa, kita berada dalam kegelapan. Tetapi jika kita menanggulangi dosa dengan mengakuinya dan mengalami pengampunan dan penyucian Allah, kita akan berada di dalam terang. Dalam pasal 2, mengenai syarat kedua dari persekutuan ilahi, entah kita di dalam kegelapan atau di dalam terang ditentukan oleh kasih kita kepada saudara-saudara. Jika kita membenci, kita berada dalam kegelapan. Tetapi jika kita mengasihi, kita berada dalam terang. Bila kita berada dalam terang, kita pun ada di dalam persekutuan ilahi. Tetapi bila kita di dalam kegelapan, kita tidak ada hubungan dengan persekutuan ini.

Persekutuan ilahi adalah bagi hidup gereja. Persekutuan ini harus dipelihara dengan kasih persaudaraan. Di satu pihak, kasih persaudaraan adalah hasil, akibat dari persekutuan ilahi; di pihak lain, kasih persaudaraan adalah satu kondisi, satu syarat dari persekutuan ilahi. Jadi, kasih persaudaraan adalah syarat untuk persekutuan ini, juga hasil persekutuan ini. Sesungguhnya kasih persaudaraan ini adalah hidup gereja. Hidup gereja meliputi kaum beriman yang berbeda ras, negara, bahasa, dan kebangsaan. Kita memuji Tuhan bahwa bersama-sama kita menikmati kasih persaudaraan sejati!

Jika kita ingin mempunyai kasih ini, kita perlu mengenal Tuhan secara pengalaman. Sebagai orang yang mengenal Tuhan, kita perlu menerima firman-Nya sekali demi sekali. Bila kita menerima firman, kita menerima terang. Di dalam terang ini kita dengan spontan mempunyai kasih. Kasih ini adalah satu petunjuk yang kuat bahwa kita juga mempunyai diri Tuhan sendiri. Dengan kasih ini, kasih ilahi yang kita alami dan nikmati, kita mengasihi Allah dan anak-anak-Nya. Bila kita mempunyai kasih ini terhadap Allah dan terhadap anak-anak Allah, kita mempunyai hidup gereja. Seperti yang telah kita tunjukkan, kasih ini sebenarnya adalah hidup gereja.

Kasih adalah satu syarat persekutuan ilahi dan hasil dari mengalami persekutuan ini. Kasih yang dihasilkan dari terang ilahi, terang yang datang bila kita menerima firman Tuhan di dalam pengenalan kita akan Dia, adalah persekutuan bagi hidup gereja. Semoga kita semua mempunyai kasih ini, kasih Allah, disempurnakan di dalam kita sehingga kita dapat memelihara persekutuan ilahi bagi hidup gereja.

Write a comment:

*

Your email address will not be published.

© 2016 Gereja Sidang Jemaat Kristus

SK Dirjen Bimas (Kristen) Protestan Departemen Agama RI No. 79/1987

Follow us: